![]() |
| Visit - Pare |
![]() |
| Ringin Budo Pare |
![]() |
| Senapan angin Bramasta |
![]() |
| Stasiun PJKA Pare |
Di sisi timur adalah wilayah pengunungan Batu-Malang, yang mampu mengalirkan air pegunungan dan hembusan udaranya yang bersih dan segar ke wilayah Pare dan sekitarnya.Di beberapa wilayah terdapat sumber air alami yang hingga kini tidak kering meskipun di musim kemarau. Sejauh ini irigasi mayoritas masih digunakan untuk persawahan dan perikanan. Kalaupun ada yang dikelola untuk wisata, pengelolaannya pun masih kurang optimal. Dengan kondisi alamnya, Pare berpotensi sebagai tujuan wisata, bahkan nyaman untuk tempat tinggal di masa tua.
Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higinis dengan harga "kampung" dapat dijumpai dengan mudah di Pare. Berbagai infrastruktur dan fasilitas kehidupan kota juga dengan mudah dapat dijumpai, baik sarana pendidkan, hotel, rumah sakit (yang besar HVA dan RSUD rumah bersalin yang lengkap pun juga ada), ATM bersama, warnet 24 jam ber-AC, dsb.
![]() |
| Polres Kediri |
Terdapat pula sarana lain yang berskala kabupaten, misalkan:
| Monumen Pancasila |
![]() |
| Taman Makam Pahlawan |
![]() |
| Stadion Canda Bhirawa |
![]() |
| Masjid Besar An Nur - Pare |
Masjid Besar An Nur,adalah masjid yang terletak di Jalan Panglima Sudirman, Pare, Kediri.
Masjid dengan luas sekitar 4 hektar ini sempat terhenti karena krisis moneter 1997, namun akhirnya berhasil diselesaikan dengan menelan biaya sekitar Rp 200 miliar. Biaya pembangunan itu sungguh besar untuk ukuran sebuah masjid, namun menjadi wajar bila ditengok dari bangunan masjid yang namanya diambil dari Kyai Nurwahid, pejuang Islam yang terkenal di Pare yang dimakamkan di Desa Tulung Rejo, Pare, Kediri.
Masjid An-Nur Pare menjadi representasi penting untuk masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri.
![]() |
| Cikal Bakal Kampung Inggris |
Pare terutama Desa Pelem dan Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris atau yang akrab di sebut dengan Kampung Inggris.
Sejak pada 15 Juni 1977 di desa setempat, Muhammad Kalend Osen mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) dengan enam siswa pada kelas perdana. Para siswa tersebut terus dibina dan dididik tidak hanya kemampuan bahasa inggris, namun juga ilmu agama serta kecakapan akhlak.
Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris.
Lebih dari 114 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program D2, D1 atau short course untuk mengisi waktu liburan.
Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa. Mulai sekitar tahun 2000-an, para investor dari luar kota juga mulai melirik potensi yang ada dengan turut mendirikan lembaga kursus. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 200 rb per bulan
Pare menjadi wilayah pertama di kabupaten Kediri yang sudah memiliki fasilitas jaringan RT-RW-NET.
![]() |
| Clifford Geert |
![]() |
| The Religion of Java |
Sejauh ini, belum ada bukti-bukti sebagai kajian sejarah yang melatarbelakangi lahirnya nama Pare. Yang ada adalah sebatas kepercayaan saja. Menurut wikipedia, nama Pare dipercaya berasal dari kata "palerenan" dalam Bahasa Indonesia berarti tempat peristirahatan. Sekali lagi, penelusuran perlu dilakukan untuk mengetahui dengan pasti asal kata nama kota Pare, terlebih kapan berdirinya. Tetapi dari kondisi kota yang tenang, guyub, rukun dan udara yang bersahabat, bisa jadi asal kata itu memang benar.
Oh ya..satu lagi Pare juga terkenal akan oleh-oleh khasnya antara lain adalah tahu kuning (tahu Pong)dan gethuk pisang.
![]() |
| Tahu Kuning dan Gethuk Pisang. |
Kendati hanya sebuah kota kecamatan, dari sisi pengamatan demografi membenarkan asumsi di atas. Penduduk Pare berasal dari kota-kota di sekitarnya maupun dari luar propinsi seperti dari suku Minang, Sunda, Timor, Irian, Bali, Kalimantan, bahkan etnis Tionghoa dan Arab. Pendeknya komposisi sebagian besar suku di Indonesia hampir terwakili keberadaannya di Pare. Bagi yang pernah bertugas atau berdomisili di Pare, akan sangat menarik untuk menghabiskan masa pensiunnya di kota yang terbuka, tenang dan damai ini.
![]() |
| Pare Kediri Jawa Timur |
Sign up here with your email





.jpg)



.jpg)



ConversionConversion EmoticonEmoticon